A.
Latar
Belakang
Preeklamsia
adalah keadaan pada ibu hamil dengan umur kehamilan >20 minggu dimana
ditemukan tekanan darah diastolik >90 mmHg dalam 2 kali pengukuran berjarak
1 jam atau lebih dengan disertai proteinuria. Preeklamsia dibagi dua golongan
yaitu preeklamsia ringan dengan tekanan darah mencapai 140/90 mmHg, preeklamsia
berat dimana tekanan darah mencapai 160/110mmHg. Tekanan darah tinggi dapat
menurunkan aliran darah ke plasenta, yang akan mempengaruhi persediaan oksigen
dan nutrisi bayi. Hal ini dapat memperlambat pertumbuhan bayi dan meningkatkan
resiko saat melahirkan. Tekanan darah tinggi juga meningkatkan resiko kerusakan
tiba-tiba dari plasenta, dimana plasenta akan terpisah dari uterus sebelum
waktunya. (Zerlina, 2013)
Preeklamsia
dapat berkembang menjadi eklamsia. Eklamsia adalah preeklamsia dengan disertai
kejang. Ini adalah salah satu komplikasi
paling berbahaya dari kehamilan dan dapat menyebabkan koma dan kejang. Eklamsia
dapat menyebabkan pembuluh darah di dalam rahim mengalami kejang, memutus
aliran darah ke bayi sehingga kadar oksigen di darahnya sangat rendah dan
membahayakan. Selain itu, oksigen di otak ibu juga berkurang sehingga
sensitivitas otak meningkat dan mengakibatkan kejang. Jaringan dipenuhi air
karena retensi cairan dan perdarahan bisa terjadi pada berbagai jaringan
seperti hati. Oleh karena itu perlu dilakukan penanganan pre-eklamsia berat/ eklamsia,
salah satunya dengan pemberian MgSO4.
B.
Tujuan
1. Mencegah terjadinya
kejang
2. Menurunkan tekanan
darah
C.
Indikasi
1. Tekanan darah >160/110
mmHg
2. Protein urin +1 atau
+2 atau +3
D.
Kontraindikasi
1. Keracunan MgSO4
2. Pasien henti nafas
E.
Persiapan
Alat & bahan
1.
Alat:
a. APD
lengkap (celemek, topi, masker, alas kaki)
b. Hanscoon
c. Bak
instrument
d. Bengkok
e. Kom
kecil
f. Perlak
dan pengalas
g. Spatel
lidah
h. Masker/sungkup
i.
Korentang
j.
Cuci tangan set
k. Jam
l.
Kateter
2.
Bahan:
a. MgSO4
4 gr 40 %
b. MgSO4
6 gr 40 %
c. MgSO4
2 gr 40 %
d. Calcium
Gluconas 1 gr 10%
e. Spuit
25 cc
f. Lidocain
2%
g. Aquabides
h. Infus
set
i.
Abocath/venflon
j.
Cairan infus RL
k. tabung
oksigen
l.
plester
m. kapas
alkohol
n. Larutan
klorin
F.
Prosedur
Pelaksanaan
1. Menyapa
dengan sopan dan ramah, memperkenalkan diri kepada pasien/keluarga, memposisikan
pasien, merespon posisi pasien, percaya diri, menjaga privasi pasien.
2. Menjelaskan
keadaan pasien
3. menjelaskan
tindakan, tujuan / prosedur yang akan
dilakukan dan meminta persetujuan
Pasien
kejang :
4a. Beri obat antikonvulsan (MgSO4)
5a.
Siapkan penanganan untuk kejang (jalan nafas, slym suiqer, masker dan balon
oksigen)
6a.
Beri oksigen 4-6 liter per menit
7a.
Lindungi pasien dari kemungkinan trauma, tapi jangan diikat terlalu keras
8a.
Berikan pasien pada sisi kiri untuk mengurangi resiko aspirasi
9a.
Setelah kejang, aspirasi mulut dan tenggorokan jika perlu
Penanganan Umum :
4b.
Berikan obat anti hipertensi jika ekanan diastolik > 110 mmHg
5b.
Pasang infus RL dengan jarum besar (no 16 /18 )
6b.
Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload cairan
7b.
Kateterisasi urine untuk memantau pengeluaran urin dan proteinuria
8b.
Jika jumlah urin <30 ml per jam :
·
Hentikan MgSO4 dan berikan cairan IV
(NaCl 0,9 % atau RL ) pada kecepatan 1 liter per 8 jam
·
Pantau kemungkinan edema paru
9b.
Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi muntah dapat
mengkibatkan kematian ibu dan janin.
10b.
Observasi tanda – tanda vital, reflek, dan denyut jantung janin setiap jam
11b. Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru
12b. Hentikan pemberian cairan IV dan berikan deuretik misalnya furosemid 40 mg. IV sekali saja jika ada edema paru
12b. Hentikan pemberian cairan IV dan berikan deuretik misalnya furosemid 40 mg. IV sekali saja jika ada edema paru
13b.
Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan sederhana (bedside closing test). Jika pembekuan tidak terjadi sesudah 7
menit, kemungkinan terdapat koagulopati.
Pemberian
MgSO4 dalam PEB/E
1. Pasikan
tekanan darah > 160/110 ( tanpa pertimbangan apapun, wajib menyuntikan MgSO4 )
2. Pasang
infus RL dengan jarum ukuran no 16 / 18
3. Siapkan
obat anti dotum
4. Pasang
Dower Catheter
Dosis Awal
4a.
Cara 1 :
MgSO4 4 gr 40 % (10 cc) di ecerkan dengan aquabides 10 cc : dimasukkan lewat IV langsung (bolus) dengan lama penyuntikan > 5 menit,
4b. Cara 2 :
MgSO4 4 gr 40% (10 cc) di suntikan IV lewat selang infus selama 5 menit, dengan tetesan
cairan infus lepas klem
4c . Cara 3:
MgSO4 4 gr 40 % ( 10 cc) dimasukkan ke cairan infus RL 100 cc dengan tetesan lepas klem
MgSO4 4 gr 40 % ( 10 cc) dimasukkan ke cairan infus RL 100 cc dengan tetesan lepas klem
4d. Cara 4:
MgSO4 4 gr 40 % (10 cc) diencerkan dengan aquabides 10 cc dimasukkan lewat bokong kanan dan kiri pasien secara IM, dan pada spuit yang akan disuntikkan ditambah 1 cc lidocain 2 %. Pada saat pemberian MgSO4 , bokong terasa panas.
Dosis Pemeliharaan / Lanjutan ( diberikan hasil protein urin + 2/ +3):
5. MgSO4
6 gr 40 % ( 15 cc) dimasukkan ke dalam cairan RL 500 CC dengan tetesan 20 tpm habis selama 6 jam ,
diberikan sampai 2 jam post partum atau kejang berahir
6. Rujuk Ke RS
7. Jika
kejang berulang setelah 15 menit pemberian dosis awal, berikan MgSO4 2
gr 40% (5cc) diencerkan dengan cairan aquabides 5 cc disuntikkan I.V lewat
selang infus selama 5 menit, dengan tetesan cairan infus (RL) diklem.
8. Jika
pemberian MgSO4 terjadi henti napas, hentikan pemberian MgSO4
dan suntikkan larutan Calcium Gluconas 1 gr (10cc) secara IV lewat selang infus
pelan-pelan sampai pernapasan mulai lagi.
G. Daftar
Pustaka
Lalage, Zerlina. 2013. Menghadapi Kehamilan Beresiko Tinggi.
Klaten: Abata Press.
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.
Prawiroharjo, Sarwono.
2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan
Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta: YBPSP.
Yanti. 2010. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan. Yogyakarta: Pustaka Rihama.
No comments:
Post a Comment